WeCreativez WhatsApp Support
Tim kami ada di sini untuk menjawab pertanyaan Anda.
Ajukan Pertanyaan Anda Kepada Kami
Home / Berita / Cerita Seorang Dokter yang Berjuang di Wilayah Pemblokadean

Cerita Seorang Dokter yang Berjuang di Wilayah Pemblokadean

Menjadi dokter adalah yang tidak mudah dilakukan, lalu Al-Qishawi harus bertugas di wilayah yang tengah dicekik Israel dalam sebuah penjara bernama pemblokadean.

Palestineupdate.com – Krisis yang juga menggerogoti sektor kesehatan, membuat perjuangan dokter ini menjadi berkali lipat. Meski begitu, ia tetap berjuang walau keadaan tak kunjung membaik. Simak kisah selengkapnya di kabar Palestina hari ini, ya!

Abdullah Al-Qishawi. Pria berusia 49 tahun ini telah menjadi dokter selama dua dekade lebih, dan telah mengawasi proyek transplantsi ginjal pertama di Gaza, yang diluncurkan pada tahun 2013.

Berita Palestina: Dokter-dokter Palestina Kecam AS yang Potong Dana untuk Rumah Sakit

Di departemen dialisis Rumah Sakit Al-Shifa Kota Gaza, kompleks medis terbesar di Gaza, Dr Abdullah Al-Qishawi menjalankan tugasnya.

Qishaqi yang merupakan kepala departemen, sehari-hari memeriksa puluhan pasien dialisis. Banyak dari mereka yang mengalami kemunduran serius dalam kesehatan sejak awal tahun 2019, yang disebabkan oleh kurangnya peralatan medis dan pemadaman listrik.

Dampaknya terlihat jelas di departemen yang penuh dan sesak. Ruangan dan bangsal semuanya penuh, memaksa para pasien untuk menunggu berjam-jam – kadang menunggu di luar – demi giliran mereka dalam memperoleh “pelayanan” mesin dialisis.

berita palestina - rumah sakit al-shifa gaza (2) - www.palestineupdate.com - Palestine Update
Keterangan Foto: Rumah Sakit Al-Shifa Kota Gaza. (Sumber. International Solidarity Movement)

“Kami mengalami krisis kekurangan obat yang parah dan pemadaman listrik, yang mempersulit perawatan pasien dialisis,” ungkap Qishawi.

Jumlah orang yang memerlukan perawatan juga mengalami peningkatan.

“Apa yang memperburuk situasi dan melipatgandakan jumlah pasien dialisis adalah fakta bahwa hampir seluruh air minum di Gaza tidak layak minum. Akibatnya, puluhan ribu orang menyakiti ginjal mereka sendiri.”

Berita Palestina: Ketika Rumah Sakit Hanya Tersedia Satu di Kota Rafah – Gaza

Terdapat 65 mesin dialisis di Gaza, namun hanya di bawah sepertiga dari mereka yang rusak, ungkap Qishawi.

Departemen dialisis dulu beroperasi selama 16 jam sehari, dari pukul 8 pagi hingga tengah malam. Akan tetapi saat ini, untuk menangani jumlah pasien yang meningkat dan kurangnya staf medis serta peralatan, departemen terpaksa menambah waktu operasi hingga pukul 4 pagi.

“Terdapat kekurangan pasokan dan peralatan medis yang sangat parah, menyebabkan rumah sakit terbesar di wilayah tidak mampu menyediakan perawatan yang dibutuhkan dan sering kali darurat – untuk ribuan pasien,” lanjutnya. (kimikim/palestineupdate)

 

Sumber. Middle East Eye

About admin

Check Also

Al-Aqsha Genting, Murabithun Serukan Aksi #FajarHarapan

Palestineupdate.com – Seruan pelaksanaan Shalat Shubuh di Al-Aqsha ramai dicuitkan para aktivis dan puluhan ribu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *