WeCreativez WhatsApp Support
Tim kami ada di sini untuk menjawab pertanyaan Anda.
Ajukan Pertanyaan Anda Kepada Kami
Home / Al-Aqsha / Dua Sisi Gaza: Kisah Kelam di Tanah Pemblokadean

Dua Sisi Gaza: Kisah Kelam di Tanah Pemblokadean

Ada banyak warna di Jalur Gaza. Selain abu-abu dan hitam, Gaza juga memiliki warna cantik di dalamnya.

palestineupdate.com Gaza yang selama ini kita kenal adalah wilayah dengan berbagai penderitaan. Betul? Meski begitu, seorang saudari asal Gaza bercerita bahwa Gaza itu ibarat pelangi dengan berbagai warna, juga layaknya masakan dengan berbagai rasa. Tak hanya kesedihan, namun ada banyak kebahagiaan juga pelajaran berharga darinya. Lantas, bagaimana cerita lengkapnya? Simak ulasan dalam kabar Palestina hari ini.

 

Berita Palestina: Kehidupan Pesisir Gaza Semasa Blokade Israel

 

Gaza adalah tempat aku dilahirkan dan tempat aku meninggal suatu hari nanti. Di sana tempat keluargaku tinggal dan tempat yang membuatku merasa aman. Aku lantas bisa membayangkan raut kebingungan kalian, ketika kusandingkan kata “Gaza” dengan “aman”. Apakah mungkin, betul? Jawabannya adalah ya, karena tak peduli kemana pun seseorang pergi, tak peduli seberapa indah tempat lain itu, Gaza memiliki suatu keunikan tersendiri. Jika kamu melihat kehidupan pribumi Palestina yang dipenuhi oleh keputusasaan, tulisan ini hadir untuk memperbaiki apa yang selama ini diketahui secara umum.

Gaza adalah tanah yang penuh dengan kontradiksi dan perbedaan yang begitu besar: hidup dan mati, cinta dan benci, kejujuran dan kemunafikan, kehancuran dan perlawanan. Gaza merupakan wilayah, di mana “hak” yang diterima begitu saja di tempat lain – hanyalah mimpi. Gaza ialah tempat di mana warganya kadang berharap tak hidup di dalamnya, tapi secara bersamaan mereka akan kehilangan jika pergi dari sana.

Tentu saja, hanya menulis apa yang disukai mengenai Gaza akan menjadi sebuah kebohongan. Hidup di wilayah ini merupakan sebuah perjuangan tiada akhir, yang diliputi oleh tragedi:

 

Keterangan foto: Potret Jalur Gaza tampak atas. (Sumber. Palestina-komitee)

 

 

Keinginan untuk Bepergian

Ketika aku masih kanak-kanak, ayah sering bercerita padaku tentang keindahan Palestina, sebuah negeri yang Muslim anggap suci. Ia memberitahuku bahwa dirinya pernah sekali beribadah di Masjid Al-Aqsha, Al-Quds. Ayah mengibaratkannya sebagai pengalaman religius yang indah dan tak ada bandingannya.

Ketika aku meminta ayah bercerita lebih tentang masjid, ia menjawab dengan mengutip sebuah hadis dari Rasulullah Saw: “Janganlah bepergian kecuali ke tiga masjid; Masjid Al-Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Al-Aqsha.”

Jika kamu bukan seorang Muslim, izinkan aku menerjemahkannya padamu: ke tiganya merupakan masjid yang paling agung di dunia! Sekali beribadah di Masjid Al-Aqsha sama dengan beribadah sebanyak 500 kali di tempat lain. Aku kemudian meminta pada ayah untuk beribadah di sana juga. Ia pun menjawab, “Oh putriku, aku harap kita semua bisa.”

“Mengapa kita tidak bisa melakukannya? Mengapa? Mengapa?” aku memohon padanya, mataku bahkan sudah dipenuhi dengan air mata.

 

Keterangan foto: Masjid Al-Aqsha, Al-Quds, Palestina. (Sumber. Daily Sabah)

 

Ketika aku pergi tidur malam itu, aku memandangi langit-langit kamar, memikirkan pertanyaan tersebut. Beribadah di Masjid Al-Aqsha masih menjadi salah satu mimpiku. Tidak diberi hak untuk beribadah di sana, mungkin merupakan akibat paling buruk dari perampasan yang kami alami sebagai pribumi Palestina.

Mengapa seluruh dunia mengizinkan prasangka dan penindasan semacam itu? Seluruh kata tanya “mengapa” tanpa adanya jawaban, benar-benar terasa seperti beban yang menggantung di sekitar leher dan menusukku hingga ke hati.

Semua warga Gaza memiliki keinginan besar untuk melihat dunia. Siapa pula yang tak ingin bepergian? Untuk melihat sesuatu di luar halaman rumah sendiri? Bagaimanapun, meninggalkan Gaza merupakan tantangan yang hampir mustahil dilakukan, bagi sebagian besar dari kami.

 

Keterangan foto: Paspor Palestina. (Sumber. Go Palestine)

 

Bahkan, jika kami memperoleh visa untuk mengunjungi negara lain, kami mungkin tak bisa mendapatkan izin untuk pergi. Dan jika kami berhasil, kami akan diperlakukan secara mengerikan.

Seorang teman pernah mencoba pergi ke luar negeri untuk menyelesaikan pendidikan lanjutannya. Setibanya di gerbang perbatasan Gaza-Mesir, dia dipaksa tidur di tanah selama dua hari. Setelah semua itu, dirinya kembali lagi. Jika pelajar hebat seperti dia saja tidak berhasil pergi, saya pikir, saya hanya akan mampu meninggalkan Gaza ketika babi bisa terbang.

Masuk ke Gaza dari Mesir pun tidak lebih mudah. Untuk melihat Gaza, kamu harus merasakan pengalaman pertama yang tak menyenangkan. Ada beberapa pos pemeriksaan setiap beberapa mil di jalan, yang dijaga oleh petugas polisi nan kejam dan rakus. Mereka bisa mengambil apa saja jika menyukai sesuatu dari kopermu, dan mereka benar-benar melakukannya. Sementara kamu menunggu, berjam-jam dihabiskan di bawah terik matahari, panasnya membuat kepalamu bersenandung.

 

Keterangan foto: Gerbang perbatasan Rafah, Gaza-Mesir. (Sumber. Kompas)

 

Jika diukur dari jarak, semestinya hanya memerlukan waktu 5 jam untuk pergi dari Kairo ke perbatasan Rafah menuju Gaza, namun biasanya ini menghabiskan berhari-hari. Kamu pun tak diberi tahu mengapa harus menunggu atau mengapa harus tidur di tanah; sementara itu, lalat terbang mengganggu di sekitarmu, sampah berserakan di mana-mana, dan ada suara hiruk-pikuk dari orang sakit, tua, miskin, dan muda.

Ketika akhirnya kamu sampai di dalam, kesan pertama dapat membuatmu kebingungan. Aku berbicara pada salah satu pelajar bernama Fathia, seorang wanita cantik asal Palestina yang tinggal di Arab Saudi, mengenai kunjungannya.

Dia mengaku bahwa ketika pertama kali datang ke Gaza, dirinya mengkritik budaya kami. Mengapa warga Gaza menulis di atas dinding rumah mereka? Mengapa ada begitu banyak rumah yang tidak dicat? Mengapa jalanannya begitu sempit? Mengapa ada begitu banyak penjual keliling di jalanan dan bukannya toko-toko?

 

Keterangan foto: Kehidupan sebagian besar warga Gaza, Palestina. (Sumber. Daily Sabah)

 

Akan tetapi, dirinya kemudian mengerti bahwa menulis di atas dinding memperingati momen yang luar biasa dalam sejarah keluarga. Karena begitu banyak keluarga miskin, mereka tidak mampu mengecat rumah.

Selain itu, semenjak angka pengangguran begitu tinggi, warga mencoba mencari nafkah dengan cara apa pun yang mereka bisa. Akan tetapi, dia juga melihat bahwa kebahagiaan tidak bergantung pada rumah yang masih asli atau jalanan yang lebar.

 

 

Pendidikan yang Terganggu

Aku masih ingat secara jelas hari ketika aku berusia 12 tahun, duduk di bangkuku sebagai siswa, ketika guru mengumumkan ujian dadakan. Semua ujian itu membuatku gelisah dan aku jelas-jelas belum mempersiapkan diri untuknya.

Keterangan foto: Siswa-siswa Gaza sedang belajar di sekolah. (Sumber. Kia Ora Gaza)

 

Lalu, bala bantuan datang dalam bentuk yang menggemparkan dan tidak diinginkan: sebuah ledakan, yang diikuti dengan suara sirene ambulans.  Kepala sekolah mengumumkan bahwa kami harus segera meninggalkan sekolah.

Sembari memegang kertas ujian, aku bergegas pulang ke rumah, gembira luar biasa karena bisa selamat dari ujian. Ketika aku tiba, kakak perempuanku, Samira, menceritakan apa yang baru saja ia lihat dan dengar. Suaranya terdengar bergetar dan dia hanya mampu mengucapkan beberapa patah kata.

Sebuah upacara kelulusan kadet polisi telah dibom, membunuh sejumlah petugas yang baru saja lulus, bahkan polisi lalu lintas dan musisi di orkestra kepolisian. Aku lantas menonton sebuah tayangan di televisi, mengenai tragedi yang kakakku ceritakan. Aku tak akan pernah bisa melupakan gambaran jasad yang menumpuk di atas jasad lain, dengan stasiun berita yang memutar lagu “Gathering All Wounds” sebagai latar. Lagu ini masih membuatku menangis setiap kali mendengarnya.

 

Keterangan foto: Serangan udara Israel ke Jalur Gaza. (Sumber. RT News)

 

Di Gaza, baik kehidupan maupun kematian adalah realitas yang berdampingan dalam waktu bersamaan. Pernahkah kamu menyaksikan orang-orang secara berani menunggu kematian mereka, ikhlas menerima takdir mereka? Pernahkah kamu melihat orang-orang memandangi kerusakan (bangunan) di sekitar mereka dengan rasa syukur, karena mereka masih baik-baik saja? Lantas pernahkah kamu menghibur tetangga, yang tahu bahwa kehilangan anak dan rumah adalah akibat dari memaksakan kebebasan rakyatnya?

Bagaimanapun, kami hanyalah manusia, bukan malaikat. Kami merasakan ketakutan sebanyak keberanian itu sendiri. Ketika bom menghantam wilayah, keluarga berkumpul di depan televisi; ponsel; atau radio, mencoba mendengarkan ada berapa banyak orang yang meninggal dunia sejauh ini. Para ibu menggumamkan doa yang diucapkan oleh semua wanita Palestina, meminta Sang Pencipta untuk melindungi anak-anak mereka: “Oh, Allah! Selamatkan seluruh pemuda Palestina dan biarkan perang ini berakhir bahagia untuk kemenangan Palestina yang gemilang.”

Sementara itu, setiap kali serangan terjadi, anak-anak tengah berada di luar rumah – pergi ke pasar. Orang tua mereka begitu khawatir bahwa anak-anak akan kembali sebagai jenazah, namun rumah mereka sendiri pun tidak jauh lebih aman. Dan mereka masih harus makan.

 

Berita Palestina: 7 Taktik Penjajah Israel untuk Kuasai Jalur Gaza

 

Para Pemuda yang Terlupakan

Lembaga dan media internasional banyak mengatakan tentang wanita dan anak-anak, namun hatiku pedih mengingat para pemuda. Sebagian besar pria Gaza berusia 25 hingga 35 tahun tidak mampu menikah, karena mereka tidak memiliki pekerjaan dan dengan demikian tidak mampu membayar biaya terkait (yang di dalam masyarakat kami, haruslah ditanggung oleh laki-laki). Sebaliknya, mereka terus tinggal di rumah hingga lanjut usia, bergantung pada yang lebih tua, ketika mereka ingin berkontribusi untuk orang tua dan memulai keluarga sendiri. Bersambung… (kimikim/palestineupdate)

 

Sumber. Days of Palestine

 

About admin

Check Also

musim dingin palestina - wwwpalestineupdatecom - 4

Ekstrim! 5 Fenomena Alam di Musim Dingin Palestina

Ketimbang menyebutnya sebagai cuaca buruk, fenomena alam jelang musim dingin Palestina ini lebih pantas disebut …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *