WeCreativez WhatsApp Support
Tim kami ada di sini untuk menjawab pertanyaan Anda.
Ajukan Pertanyaan Anda Kepada Kami
Home / Al-Aqsha / Dua Sisi Gaza: Warna Lain dari Tanah Pemblokadean

Dua Sisi Gaza: Warna Lain dari Tanah Pemblokadean

Ada banyak warna di Jalur Gaza. Selain abu-abu dan hitam, Gaza juga memiliki warna cantik di dalamnya.

palestineupdate.com – Gaza yang selama ini kita kenal adalah wilayah dengan berbagai penderitaan. Betul? Meski begitu, seorang saudari asal Gaza bercerita bahwa Gaza itu ibarat pelangi dengan berbagai warna, juga layaknya masakan dengan berbagai rasa. Tak hanya kesedihan, namun ada banyak kebahagiaan juga pelajaran berharga darinya. Lantas, bagaimana cerita lengkapnya? Simak ulasan dalam kabar Palestina hari ini.

 

Baca Artikel Sebelumnya: Dua Sisi Gaza: Kisah Kelam di Tanah Pemblokadean

 

Lanjutan…

Warna Lain dari Gaza

Aku telah menguatkan pandangan mengerikanmu tentang Gaza, aku tahu. Akan tetapi, terlepas dari kesedihan yang telah aku sampaikan, kami benar-benar mencintai tanah ini dan begitu pula kalian, jika kalian diizinkan untuk berkunjung.

Aku bekerja sebagai asisten proyek di UNRWA, lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk pengungsi Palestina. Kami belum lama ini mengadakan pesta perpisahan untuk salah satu rekan dari luar negeri, seorang pekerja kemanusiaan asal Perancis bernama Claire Cbl.

Itu merupakan hari terakhirnya di Gaza dan ketika itu tangisnya pecah. Aku pun penasaran, sehingga aku kemudian bertanya pada Claire – mengapa ia begitu suka berada di Gaza. Ia lantas menjelaskan:

 

Keterangan foto: Lembaga PBB untuk pengungsi Palestina, UNRWA. (Sumber. Twitter)

 

“Hidup di Gaza telah menjadi sebuah pengalaman yang hebat dan berharga, untuk beberapa alasan. Secara praktis, pekerjaanku terasa bermakna, karena UNRWA menyediakan layanan dasar yang dibutuhkan oleh hampir 70% warga Gaza. Aku juga bekerja dengan tim Gaza yang hebat, mereka sangat membantu dan suportif.

Berbicara tentang budaya, aku telah mengunjungi situs-situs sejarah yang berharga: Masjid Al-Omari, Biara Saint Hilarion (salah satu biara Kristen terbesar yang dibangun antara abad ke-4 dan ke-6), Istana Al-Basha, Pemakaman Inggris, gereja-gereja Kristen dan Ortodoks, kota tua, kebun stroberi, kebun binatang, restoran-restoran cantik di pinggir pantai, dan lainnya. Semua tempat ini mengingatkanku bahwa Gaza bukan hanya wilayah dengan konflik dan perang, tapi juga tempat dengan sejarah, budaya, dan rekreasi, yang layak mendapatkan (peran di) sektor pariwisata.

Banyak dinding yang dilukis dengan mural yang artistik, sehingga memberikan tampilan yang istimewa untuk Kota Gaza.

 

Keterangan foto: Grafiti buatan Banksy di Gaza. (Sumber. Artnet)

 

Aku juga banyak mengisi waktu dengan mempelajari bahasa Arab dan mempraktikannya bersama rekan juga kawan. Ketika aku berbicara dengan orang-orang Arab menggunakan bahasa mereka, mereka selalu menyadari bahwa aku menggunakan aksen Palestina, yang tentunya membuatku bangga.

Secara sosial, aku menemukan keramahan dan kedermawanan dari orang-orang Gaza, dengan diundang makan siang di rumah mereka, bahkan diundang saat hari raya juga pernikahan. Ini memberikanku kesempatan untuk merasakan kehidupan warga sehari-hari.

Selama bulan Ramadhan di tahun 2018, ketika aku sedang berpuasa, aku ikut berbuka puasa di rumah guru bahasa Arab, sungguh pengalaman yang tak terlupakan. Ketika itu, aku belajar cara menyiapkan karkade segar (es teh bunga sepatu/hibiskus), yang aku minum setiap malam sesudahnya.

 

Keterangan foto: Intifadhah di Palestina. (Sumber. Palestina-komitee)

 

Dan tentang politik, aku semakin paham mengenai perjuangan dan perlawanan rakyat Palestina. Aku menyadari bahwa Gaza memainkan peranan krusial selama Intifadhah. Saya merasa setiap sudut jalan masih mengingat waktu itu.

Aku juga sekarang lebih paham mengenai konflik internal antara Hamas di Gaza dan Fatah di Tepi Barat, juga tentu saja dampak yang menimbulkan petaka dari adanya blokade Israel.

Ketika kamu mendapati teman atau rekan yang masa depannya terpengaruhi – karena mereka tak bisa bepergian atau belajar atau mendapat tindakan medis, kamu sebagai manusia menyadari dampak kejam dari adanya pendudukan.”

 

Keterangan foto: Anak-anak Gaza, Palestina. (Sumber. Pinterest)

 

Untuk semua alasan yang Claire beri, Gaza sungguhlah luar biasa. Ia berharap dapat kembali suatu hari nanti dan membawa keluarga juga temannya, untuk menunjukkan kepada mereka betapa indah tempat ini. Ia melihat Gaza sebagai tempat unik yang memiliki potensi penuh. Gaza dihuni oleh orang-orang ramah yang rela hidup dalam kedamaian, kesejahteraan, dan keamanan.

 

Di Gaza, Kamu Akan Menemukan…

– Mahasiswa dengan prestasi bagus tidak mampu menyelesaikan studinya, karena tidak bisa membayar biaya kuliah.

– Insinyur, dokter, dan guru, bekerja sebagai supir taksi, karena kurangnya lowongan pekerjaan.

– Suara drone yang selalu terdengar di atas, mengawasi kamu dan siap untuk perang. Suaranya seperti lebah, menyebabkan sakit kepala dan mengganggu tidur…

– Orang-orang yang terlihat berusia 70-an sementara mereka masih berusia 40 atau 50an.

 

Keterangan foto: Krisis listrik di Gaza, Palestina. (Sumber. We Are Not Numbers)

 

– “Jadwal listrik” yang dihafalkan seperti menghafal nomor ponsel sendiri dan yang menentukan cara orang-orang menjalani kehidupan sehari-hari. Sebesar keinginan warga untuk bisa bepergian, mereka juga secara sederhana berharap; semoga bisa menggunakan listrik selama 24 jam, tanpa pemutusan listrik. Meski begitu, jika orang-orang mempunyai hari seperti itu, mereka akan bertanya “mengapa” dengan rasa curiga.

– Para pemuda tanpa kaki, merupakan pemandangan yang tidak asing di jalanan saat ini…

 

 

Tapi di Gaza, Kamu Juga Akan Mengalami Berkah Ini:

– Jika kamu lapar atau haus, tersesat, jatuh di jalan, jika orang mengganggumu, kamu akan segera menemui orang yang membantu/melindungi. Mereka akan melindungimu seolah kamu merupakan putra-putri mereka, walaupun mereka tak pernah bertemu denganmu sebelumnya.

– Aroma menu sarapan pagi atau makan siang milik tentanggamu ketika sedang berjalan di jalanan. Tak ada yang lebih enak dibandingkan makanan ful, falafel, dan hummus. Inilah makanan yang warga Gaza biasa bagi sehari-harinya. Lalu, bagaimana dengan kunafa? Luar biasa enak!

 

Keterangan foto: Suasana salat berjemaah di salah satu masjid di Gaza, Palestina. (Sumber. Swissinfo)

 

– Imam-imam masjid dengan suara yang begitu indah, memanggil warganya untuk ibadah di siang hari.

– Anak-anak berusia 8 tahun menghafalkan seluruh ayat Alquran dengan hati.

– Antrian panjang dari para pemuda, mereka berebut untuk mendonorkan darah terlebih dahulu di rumah sakit.

– Anak-anak ayang diajarkan bahwa pendidikan seberharga nyawa mereka.

– Seluruh generasi dari anggota keluarga duduk dan berbincang selama berjam-jam…

– Gaza menjadi tempat terbuka bagi mereka yang masuk! Walaupun pemblokadean Israel menuntut harga yang tinggi, hal itu juga telah memperkuat warganya, membuat mereka menjadi lebih dewasa, lebih berpengatahuan dan lebih bersemangat dalam melawan ketidakadilan. Apa yang orang-orang lain pelajari tentang “Black Lives Matter”, telah warganya pelajari jauh sebelum itu.

 

Berita Palestina: Gaza Ekspor Masker ke Israel, Ironis tapi Manusiawi

 

– Gaza seperti ibu pertiwi yang agung, yang benar-benar mencintai anak-anaknya – juga mereka yang meminta pelukannya. Gaza dicintai bukan hanya oleh warganya, tapi juga oleh mereka yang berkunjung seperti Fathia dan Claire.

Paradoks dan kontradiksi telah menemukan tempat bernaungnya di sini (Gaza). Walaupun kebebasan warganya telah dicuri oleh penjajah Israel, Gaza merupakan tempat yang layak untuk ditulis… (kimikim/palestineupdate)

 

Sumber. Days of Palestine

 

About admin

Check Also

musim dingin palestina - wwwpalestineupdatecom - 4

Ekstrim! 5 Fenomena Alam di Musim Dingin Palestina

Ketimbang menyebutnya sebagai cuaca buruk, fenomena alam jelang musim dingin Palestina ini lebih pantas disebut …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *