WeCreativez WhatsApp Support
Tim kami ada di sini untuk menjawab pertanyaan Anda.
Ajukan Pertanyaan Anda Kepada Kami
Home / Berita / Gaza Ekspor Masker ke Israel, Ironis tapi Manusiawi

Gaza Ekspor Masker ke Israel, Ironis tapi Manusiawi

Sekilas memang ironis, ketika melihat mereka harus memproduksi masker untuk penjajah, namun mereka justru sangatlah hebat – karena telah membalas air tuba dengan air susu.

 

palestineupdate.com – Memang bukan kabar biasa, ketika fakta mengungkapkan bahwa Gaza mengekspor masker ke Israel terkait penanganan pandemi COVID-19. Walau ironis, namun ini menunjukkan bahwa pribumi di Gaza jauh lebih manusiawi. Bagaimana maksudnya? Mari simak ulasan selengkapnya di kabar Palestina hari ini.

 

Berita Palestina: Segelintir Cerita Penduduk Gaza Menghadapi Corona

 

Di Jalur Gaza – Palestina, jumlah kasus COVID-19 memang bertambah di pusat-pusat karantina. Karena itu, industri tekstil memaksimalkan kinerja untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Akana tetapi, itu termasuk kebutuhan dari penjajah Israel.

Pabrik Noor Al-Bahaa di barak pengungsian Jabaliya, Jalur Gaza bagian utara, mengubah pengoperasiannya di bulan Maret – dari memproduksi pakaian untuk pasar domestik jadi menghasilkan ribuan masker medis, dan mengekspor hampir seluruhnya ke Israel.

Ironisnya, beberapa pekerja pabrik bahkan merupakan korban tembak dari penembak jitu (sniper) Israel, dalam Aksi Kepulangan Akbar di Gaza.

berita palestina - warga sering menjadi korban di aksi kepulangan akbar - www.palestineupdate.com (2) - www.palestineupdate.com
Keterangan Foto: Banyak sekali lagi warga yang ditembak oleh Israel di bagian kaki, saat hadiri Aksi Kepulangan Akbar. (Sumber. TRT World)

 

Muhammad Anbar dan Ezz Abu Dlakh, pekerja di pabrik, keduanya terluka saat ambil bagian dalam aksi protes tanggal 14 Mei 2018, yang dikenal sebagai “Senin Berdarah di Gaza” – di mana penembak jitu Israel membunuh lebih dari 60 demonstran, dan melukai ribuan orang lebih pada hari itu.

Cerita keduanya kemudian saling menggema. Anbar dan Abu Dlakh ditembak di bagian kaki dan juga kesulitan mencari pekerjaan setelahnya.

Anbar (29 tahun) sendiri kehilangan pekerjaan sebagai penjual pakaian di pasar sentral Jabaliya. Setelah enam bulan masa pemulihan, ia mampu berjalan kembali walaupun tidak mudah. Ia juga kesulitan menemukan pekerjaan, yang diperlukan untuk membantu orang tua dan saudara-saudaranya – sekitar 11 orang. Perlu hampir dua tahun, sebelum akhirnya Anbar ditawari pekerjaan di pabrik Noor Al-Bahaa – oleh pemiliknya yang bernama Rezq Al-Madhoun (50 tahun).

 

Berita Palestina: UNICEF Kecam Pembunuhan Anak-anak Palestina di Aksi Kepulangan Akbar

 

Anbar dan Abu Dlakh kini bekerja di pabrik selama hampir 13 jam, setiap harinya. Pekerjaan itu sangat berarti bagi keduanya. Mereka melipat masker medis dan menaruhnya di kotak-kotak, yang sudah disterilisasi.

Masker kemudian dipindahkan ke gudang, lalu dibawa ke pos pemeriksaan Kerem Shalom; satu-satunya tempat yang Israel izinkan untuk keluar-masuk barang di wilayah Gaza.

“Tak pernah terjadi sebelumnya di hidupku, kalau aku akan bekerja di tempat yang mengekspor barangnya ke Israel, yang telah menghancurkan kakiku,” ungkap Anbar.

berita palestina - warga sering menjadi korban di aksi kepulangan akbar - www.palestineupdate.com (3) www.palestineupdate.com
Keterangan Foto: Banyak sekali lagi warga yang ditembak oleh Israel di bagian kaki, saat hadiri Aksi Kepulangan Akbar. (Sumber. Islampos)

 

“Tapi aku sangat senang karena mendapatkan pekerjaan, yang dapat memenuhi kebutuhan pribadi dan membantu keluargaku.”

Abu Dlakh juga melihat ironi dalam pekerjaan mereka, namun ia menganggapnya sebagai layanan untuk kebaikan yang lebih besar.

“Dua tahun lalu, Israel ‘membunuh’ kami. Hari ini, kami memproduksi masker untuk melindungi mereka dari virus Corona. Kami lebih manusia daripada mereka.”

 

Berita Palestina: Corona Ancam Pekerja Palestina, Israel Usir Mereka seperti Binatang

 

Bagaimanapun, ada luka yang tidak pulih dengan pekerjaan. Abu Dlakh memilih mengambil cuti di tanggal 15 Mei. Di hari di mana ia terluka, ungkapnya, ia tidak ingin bekerja demi “menguntungkan mereka yang telah menghancurkan hidupnya”.

Betapa besar perjuangan dan pengorbanan, yang harus mereka lakukan. Meski tidak mudah, pada akhirnya mereka mampu melihat celah-celah hikmah dari Sang Pencipta. Jadi, walaupun pekerjaan itu terlihat sebagai ironi, sikap mereka justu menunjukkan – siapa yang sebenarnya bersifat manusiawi. Wallahu’alam. (kimikim/palestineupdate)

 

Sumber. Electronic Intifada

About admin

Check Also

berita palestina - penghancuran rumah di tepi barat oleh israel - www.palestineupdate.com (1)

Inilah yang Terjadi jika Kamu Bangun Rumah di Tepi Barat

Beginilah nasib pribumi Palestina di negeri sendiri, harus mendapatkan perlakuan sewenang-wenang penjajah, yang seenaknya menghancurkan …

One comment

  1. Allahuakbar🇵🇸

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *