WeCreativez WhatsApp Support
Tim kami ada di sini untuk menjawab pertanyaan Anda.
Ajukan Pertanyaan Anda Kepada Kami
Home / Artikel / Israel Serang Humsa, Palestina Badui Hidup Tanpa Atap

Israel Serang Humsa, Palestina Badui Hidup Tanpa Atap

Penghacuran pemukiman Palestina Badui di Desa Humsa, Lembah Yordania Utara oleh Pasukan Israel membuat mereka terpaksa menjalani hidup tanpa tempat tinggal yang aman dan nyaman.

palestineupdate.com Seorang Palestina Badui, Harb Abu-Elkbash (48), akan menghabiskan sembilan malam berturut-turut di bawah langit terbuka dalam suhu beku. Pasalnya, pasukan Israel menggerebek desanya, Humsa al-Baqia di Lembah Yordania Utara untuk menghancurkan tenda dan kandang dombanya.

Dalam keadaan badai salju yang melanda Palestina, dengan kondisi musim dingin yang parah pada saat itu, pasukan Israel tetap memindahkan tenda-tenda warga Palestina meskipun mereka berkumpul untuk memberi perlindungan pada kaum dan ternak mereka.

 

Baca juga: Dua Sisi Gaza: Kisah Kelam di Tanah Pemblokadean

 

Israel Menyita Barang Palestina Badui

(Penghancuran bangunan oleh Israel di Khirbet Humsa/sumber: Keren Manor)

 

Selain menghancurkan pemukiman, Israel juga turut menyita atau merusak barang yang ada disekitar pemukiman. Dalam laporan Anadou Agency, Sisa-sisa tenda, gudang, toilet portabel, dan panel surya milik 11 keluarga terlihat berserakan di seluruh lahan pertanian.

Ketika penduduk desa seperti Harb mencoba membangun kembali tempat penampungan untuk diri dan ternak mereka, pasukan Israel kembali untuk menghancurkan tenda mereka lagi, dan memaksa mereka untuk menghabiskan malam tanpa atap.

Harb mengatakan Israel pun turut menyita segala keperluan yang dibutuhkan.

“Mereka datang lagi dua kali dalam beberapa hari terakhir dan menyita semua peralatan pertanian kami, mulai dari toilet portabel, dan bangunan logam untuk kamar dan tenda kami,” katanya.

Pasukan Israel menyerbu Desa Hamsa ketika delegasi diplomat Eropa mengunjungi daerah itu, kemudian semua persediaan yang dibawa untuk orang-orang disita.

“Kami adalah 65 orang yang hidup tanpa tempat berlindung, air, dan listrik,” kata Harb.

 

Hilangnya Akses ke Warga Palestina Badui

(seorang anak Palestina Badui berdiri diantara tenda mereka yang dibongkar pasukan Israel/sumber: Shadi jarar’ah)

 

Penyitaan barang pada warga Palestina diperparah dengan keterbatasan akses untuk hidup layak.

“Mereka tidak mengizinkan saya mengambil air dari sumur yang jaraknya 300 meter dari tenda saya. Saya harus menempuh perjalanan dua jam setiap malam untuk membawa air untuk keluarga saya. Kalau saya pergi siang hari, tentara akan menyita mobil saya, ” ujar Herb.

Motaz Bsharat, direktur urusan Lembah Jordan di Tubas, menggambarkan situasi tersebut sebagai bencana besar.

“Itu adalah kejahatan yang sempurna. Di antara 65 Badui ini, ada 42 anak. Mereka semua hidup di tempat terbuka. Tentara tidak mengizinkan kami mengakses desa; kami tidak bisa membantu atau menyelamatkan mereka, mereka menyita semuanya, ”katanya.

 

Baca juga: Kejamnya Israel Hancurkan Desa di Palestina

 

Kondisi Palestina Badui yang Mengkhawatirkan

(Nasib warga Palestina Basui setelah tenda mereka dibogkar/sumber: CNNIndonesia)

 

Israel bahkan tidak memperdulikan kondisi warga Palestina Badui yang malang.

“Keluarga saya datang ke sini sebelum 1967, dan sekarang Israel mengklaim bahwa tanah kami adalah zona militer dan ingin mengusir kami,” kata Harb.

“Mereka tidak peduli tentang apapun; hidup kita, anak-anak kita tidak berarti apa-apa bagi mereka,” Lanjutnya.

Harb, saudara laki-lakinya, dan keluarga mereka sekarang menghabiskan malam musim dingin yang menggigit di tempat terbuka.

“Anak-anak kami hidup dalam kondisi yang mengerikan. Keponakan saya baru berusia tiga hari, ketika tentara menghancurkan tenda kami untuk pertama kalinya. Mereka mengambil tenda kami saat hujan, ”katanya kepada Anadolu Agency.

 

Kronologi Penghancuran Desa Humsa

(Kondisi setelah penghancuran bangunan/sumber: kompas)

 

Pasukan pendudukan Israel menghancurkan warga Palestina di Hamsa al-Bqaia empat kali bulan ini dengan dalih bahwa daerah tersebut ditujukan untuk pelatihan dan mengungsikan mereka ke daerah lain.

Sebelumnya, pada 3 November 2020, dalam insiden pemindahan paksa terbesar yang tercatat dalam beberapa tahun terakhir, 73 orang, termasuk 41 anak-anak mengungsi. Beberapa pemukiman dihancurkan, dimana 29 bangunan telah disediakan sebagai bantuan kemanusiaan.

Selang beberapa bulan, pada 1 Februari, pasukan Israel menyita 25 bangunan di Hamsa al-Baqia dengan tuduhan tidak memiliki izin bangunan Israel untuk pembangunan di Area C.

Kemudian pada 3 Februari, pasukan Israel kembali untuk menyita 21 bangunan lainnya. Enam puluh warga Palestina telah diusir dari rumah mereka, termasuk 35 anak-anak. Bangunan yang dibongkar termasuk 21 rumah, 17 tempat penampungan ternak, dan 8 fasilitas air dan kebersihan.

Pada 8 Februari, Administrasi Sipil Israel, disertai oleh militer, kembali ke kaum Palestina Badui dan menyita atau menghancurkan 16 bangunan tempat tinggal dan hewan lainnya.

Sejak awal 2021, otoritas Israel telah menghancurkan, menyita, atau memaksa untuk menghancurkan setidaknya 199 bangunan milik Palestina, termasuk 77 yang didanai oleh donasi,  dan membuat 285 orang mengungsi, termasuk sekitar 150 anak-anak.

The United Nations Office for Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA) melaporkan, data ini mewakili peningkatan lebih dari 200 persen dalam struktur bangunan yang ditargetkan, dan lebih dari 500 persen peningkatan dalam struktur yang didanai donor ditargetkan, dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2020. (fyr/PalestineUpdate)

 

Ingin tahu informasi serupa? Cek terus perkembanganya di

www.palestineupdate.com

About admin

Check Also

Merasa Dikhianati, Bagaimana Hubungan Palestina dengan Negara Arab?

Hubungan negara Arab dan Palestina mulai memudar saat adanya normalisasi antara UEA, Bahrain dan Israel. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *