WeCreativez WhatsApp Support
Tim kami ada di sini untuk menjawab pertanyaan Anda.
Ajukan Pertanyaan Anda Kepada Kami
Home / Artikel / Kehidupan Pesisir Gaza Semasa Blokade Israel

Kehidupan Pesisir Gaza Semasa Blokade Israel

Menjadi nelayan di wilayah pemblokadean tidaklah mudah, seperti yang dirasakan bapak berusia 58 tahun ini: Suhail Al-Amoudi.

palestineupdate.com – Cerita seorang pria Gaza berikut cukup mewakili bagaimana kehidupan pribumi pesisir, selama belasan tahun blokade Israel berlangsung. Demi memberi tahu pembaca, kisah tersebut akan diceritakan dalam kabar Palestina hari ini. Check it out!

Namanya adalah Suhail Al-Amoudi. Dirinya telah kehilangan kesempatan melaut lagi, setelah penjajah merampas perahu miliknya. Hal itu terjadi pada bulan Juli 2018, ketika pria berusia 58 tahun tersebut menggunakan perahu untuk menembus blokade laut para penjajah.

Peristiwa itu terjadi di masa-masa Aksi Kepulangan Akbar; aksi protes pekanan (setiap Jumat) oleh warga Gaza demi menuntut hak pulang para pengungsi Palestina.

Dengan Suhail sebagai kapten, perahunya mengarungi lautan menuju Siprus. Beberapa penumpangnya membutuhkan perawatan medis, sementara yang lainnya berniat menjalankan studi di luar negeri.

 

berita palestina - kehidupan pesisir gaza palestina - www.palestineupdate.com (2)
Keterangan foto: sulitnya perjuangan nelayan di Gaza karena adanya gangguan dari penjajah. (Sumber. Samidoun)

 

Berita Palestina: Israel Serang 3 Nelayan Gaza, Satu Meninggal

 

Perahu Suhail sendiri merupakan bagian dari iring-iringan perahu, yang berniat mengarungi laut melebihi batas yang diperbolehkan penjajah. Lalu, saat perahu berada di jarak 12 mil dari pesisir, pasukan angkatan laut penjajah mengerumuni rombongannya.

“Para penjajah kemudian menaiki perahu dan mengacungkan senjata kepada para penumpang yang tak bersenjata,” ungkap Suhail.

Dengan sekitar 100 pasukan penjajah, mereka akhirnya menguasai perahu dan membawa rombongan ke Ashdod – sebuah pelabuhan di wilayah curian Israel.

berita palestina - kehidupan pesisir gaza palestina - www.palestineupdate.com (3)
Keterangan foto: Melaut menjadi aktivitas yang penuh risiko, itulah tantangan yang dihadapi nelayan Gaza. (Sumber. The Ecologist)

 

Nasib Setelahnya

Setelah ditahan beberapa waktu, rombongan dipulangkan ke Gaza melalui gerbang perbatasan Erez. Akan tetapi, Suhail malah dimasukkan ke dalam tahanan penjajah selama kurang lebih 18 bulan. Tak cukup sampai di situ, perahu yang sudah menemaninya mencari nafkah selama lebih dari 30 tahun itu pun tak kembali. Raib di tangan penjajah.

Betapa malang nasibnya. Penjajah telah merenggut hal-hal penting dan menzaliminya. Walau begitu, ia tak kehilangan harapan tentang kehidupan. Ia tetap pergi ke pantai untuk memberi saran dan bantuaan kepada nelayan-nelayan lain.

Karena baginya, melaut atau menjadi nelayan bukan sekadar profesi, melainkan sebuah bentuk perlawanan terhadap penjajahan. Walau hingga pandemi berlangsung pun penjajah masih hobi mengganggu nelayan, hal itu tidak membuat pribumi mundur dari perjuangan (melaut).

 

Berita Palestina: Ratusan Nelayan dan Petani Gaza Lakukan Aksi Protes Terkait Pemblokadean

 

“Ketika melaut, kami membawa diri kami pada bahaya besar, tapi kami rela tetap berjuang melindungi hak kami.”

“Aku mungkin berada di pesisir pantai, namun aku masih bisa mencoba membantu teman-teman lain agar bisa melaut,” tambahnya, “Ini adalah tanah dan laut kami. Kami memiliki akar di sini dan tak ada yang bisa mengusir kami keluar.”

Inilah sedikit gambaran kehidupan pribumi Gaza terutama mereka yang tinggal di pesisir, dan berjuang mencari nafkah dengan melaut. Sangatlah tidak mudah, di mana risiko kehilangan nyawa senantiasa menghantui mereka. Walau begitu, menyerah tidak ada dalam kamus hidup mereka. (kimikim/palestineupdate)

Sumber. Electronic Intifada

About admin

Check Also

berita palestina - brigade izzudin al-qassam - www.palestineupdate.com (1)

Berkenalan dengan Gerakan Perlawanan Islam Hamas

Tak kenal maka berkenalan. Walau Hamas sering kali disudutkan oleh Barat – khususnya Amerika, gerakan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *