WeCreativez WhatsApp Support
Tim kami ada di sini untuk menjawab pertanyaan Anda.
Ajukan Pertanyaan Anda Kepada Kami
Home / Artikel / Kisah Ironi Miral, Anak Penderita Kanker dari Palestina

Kisah Ironi Miral, Anak Penderita Kanker dari Palestina

Potret Miral Abu Amsha, gadis Gaza yang mengalami penyakit kanker/foto: Haaretz

 

Motivasi dari keluarga tentu akan menguatkan setiap jiwa yang sedang diterpa cobaan penyakit. Namun apa jadinya tatkala bulan demi bulan menjalani pengobatan, tanpa kehadiran keluarga?

 

Palestineupdate.comSulitnya izin yang didapatkan oleh penduduk Palestina untuk mengakses fasilitas kesehatan telah berujung pada kisah ironi. Seorang gadis kecil penderita kanker di Palestina akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya tanpa pernah bertemu lagi dengan orang tuanya.

Berikut sajian informasi lengkapnya mengenai berita Palestina terkini yang dikupas oleh Palestine Update, laman informasi kabar terbaru Palestina teraktual.

 

Gadis Pejuang Kanker Asal Palestina Meregang Nyawa.

Kisah perjuangan gadis kecil asal Palestina penderita kanker, Miral Abu Amsha tengah menjadi perbincangan publik, menyusul kisah pilunya yang harus menghembuskan nafas terakhir,  setelah berjuang melawan penyakit kanker yang menyerangnya, saat Miral yang baru berusia 10 tahun itu tengah dirawat di rumah sakit.

Direktur Rumah Sakit Universitas An-Najah, di Nablus, Dr. Kamal Hijazi mengatakan turut merasakan kesedihan atas meninggalnya Miral. Gadis cantik itu harus menunggu dua bulan untuk dapat mendapatkan pengobatan yang lebih intensif. Pasalnya, rumah di Makassed, daerah Yerusalem Timur dan rumah sakit di Yordania tidak akan menerimanya. “Sungguh akhir yang menyedihkan bagi seorang anak cantik mengalami penderitaan yang tidak perlu karena politik. ” tambahnya.

Simak informasi menarik lainnya: Bagaimana Jika Virus Corona Sampai Ke Gaza?

 

Tanpa Orang Tua, Miral Menjalani Pengobatan Hanya Ditemani Oleh Sang Nenek

Pasien yang menjalani pengobatan kanker sudah selayaknya mendapatkan dukungan dari keluarga dan orang-orang sekitar, namun hal tersebut tidak didapatkan oleh Miral. Orang tua Miral tidak dapat mengantarnya berobat bahkan pihak Israel menahan kedua orang tuanya di dalam penjara Jalur Gaza.

Israel hanya mengizinkan Miral menjalani pengobatan di An-Najah ditemani oleh Sang Nenek. Selama masa pengobatan yang memakan waktu berbulan-bulan itu, Miral tidak dapat berjumpa dengan kedua orang tuanya. Setelah berita mengenai Miral ini santer diberitakan di media, pihak Israel akhirnya mengizinkan ibunya untuk menggantikan neneknya. Sedangkan sang ayah tetap berada di Gaza, hingga akhirnya Miral menutup mata.

 

Dukungan Untuk Miral Terus Berdatangan

Petikan surat yang ditulis oleh Ashraf/foto: Haaretz

 

Kisah perjuangan Miral telah menyentuh banyak nurani anak seusianya, untuk memberikan dukungan dan keyakinan bahwa Miral tidak sendirian dalam menghadapi kanker yang semakin menggerogoti tubuhnya.

Sokongan semangat untuk Miral datang lewat surat yang ditulis oleh dua orang anak asal Sudan yang juga tinggal di kota tersebut, yaitu berasal dari Ashraf (10 tahun) yang menulis:

“Untuk Miral,

Aku tahu bagaimana perasaanmu di rumah sakit. Aku sangat sedih. Aku mengerti bagaimana perasaanmu kehilangan keluarga. Aku mengerti. Mulai sekarang kamu tidak perlu khawatir, karena kamu memiliki keluarga baru dengan teman-teman yang manis”

Ashraf.

Berharap kamu segera lebih baik.

 

Baca Juga: Kedekatan Nelson Mandela Dengan Palestina

 

Surat yang ditulis oleh Shafaq/foto: Haaretz

 

 Sedangkan sang adik Ashraf, Shafaq (8 tahun) menuliskan pesan:

“Untuk Miral,

Aku benci kamu berada di rumah sakit dan berharap kamu semakin lebih baik. Mulai sekarang, berpikirlah untuk segera lebih baik, dan kamu akan menjadi lebih baik.

Dunia bergantung padamu. Aku sangat berharap kamu pasti akan menjadi lebih baik.

Aku tahu apa yang kamu rasakan”

Dari:  Shafag.

Pesan-pesan itu kemudian dikirim dalam bentuk surat kepada Miral tepat sehari sebelum meninggal. Miral menjawab dengan mengirimkan foto dirinya yang sedang tersenyum lemah dengan raut wajah pucat pasi, terlihat rambutnya yang sudah habis tak bersisa akibat proses kemoterapi yang dijalaninya.

Sulitnya penduduk Palestina dalam mengakses fasilitas kesehatan, serta hambatan dari Israel yang kerap kali menghadang, membuat potensi kasus yang serupa dengan Miral akan terus berulang. Anak-anak pengidap kanker di Palestina hingga kini terus berjuang menjalani pengobatan agar mendapatkan kesembuhan, meski harus terpisah dengan orang tua yang terpenjara di blokade kota Gaza.

Selamat jalan Miral Abu Amsha, perjuangan dan semangat pantang menyerahmu akan menjadi nyala api semangat kita semua dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina! (itari/palestineupdate)

Sumber: Haaretz

About admin

Check Also

Bagaimana Jika Virus Corona Sampai ke Gaza?

Wabah virus Corona yang menjangkit menjadi sebuah ketakutan di sana sini. Wilayah Gaza menjadi salah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *