WeCreativez WhatsApp Support
Tim kami ada di sini untuk menjawab pertanyaan Anda.
Ajukan Pertanyaan Anda Kepada Kami
Home / Berita / Pandemi dan Blokade Kompak Buat Layu Bisnis Bunga di Gaza

Pandemi dan Blokade Kompak Buat Layu Bisnis Bunga di Gaza

Pandemi berdampak serius pada bisnis bunga di Gaza, sepinya permintaan membuat bunga terpaksa dijadikan pakan.

 

Palestineupdate.comPandemi Covid-19 tidak sebatas mengoyak ekonomi Palestina yang sudah lemah. Para petani bunga di Gaza-Palestina juga turut terkena imbasnya. Palestine Update, portal berita Palestina hari ini yang menyajikan informasi seputar kabar Palestina terkini telah merangkum informasi selengkapnya.

Budidaya Bunga Telah Lama Berkembang di Gaza

Budidaya bunga pada awalnya dikembangkan di Gaza sekitar tahun 1990-an dengan dukungan program bantuan Belanda. Tetapi tidak lama kemudian bisnis bunga dilanda serangkaian masalah. Banyak rumah kaca dan pertanian menjadi sasaran Israel selama intifada kedua. Akibatnya, penanaman bunga komersial terhenti hampir sepenuhnya di Gaza utara sekitar tahun 2003.

Selama 17 tahun terakhir, budidaya bunga sebagian besar terbatas pada bagian selatan. Hanya ada empat pertanian yang masih menanam bunga untuk tujuan komersial di Gaza hingga hari ini. Termasuk di daerah Khan Yunis yang menghasilkan ruscus, tanaman hijau yang sering digunakan sebagai pelengkap karangan bunga.

“Tanpa ruscus, bunga yang dijual kurang menarik,” kata Yousif Abu Arada (31 tahun) salah seorang pengelola pertanian di Khan Yunis, Gaza.

 

Berita Palestina: Setelah Nakba dan Naksa, Perjuangan Palestina Belum Selesai

 

Pandemi Pengaruhi Bisnis Bunga di Gaza

PU-1- Pandemi Dan Blokade Kompak Buat Layu Bisnis Bunga di Gaza-www.palestineupdate.com(2) - www.palestineupdate.com
(Salah seorang petani bunga di Gaza-Palestina/Anadolu Agency)

 

Abdullah Abu Halima telah lama memasok 15 toko bunga di Gaza dengan jenis bunga mawar, lili, dan anyelir. Biasanya dirinya dapat menjual  antara 2.000 hingga 3.000 bunga setiap hari. Namun semenjak pandemi Covid-19 mewabah, permintaan terhadap bunganya kian anjlok.

Peraturan pemerintah tentang pembatasan aktivitas di luar rumah yang telah diberlakukan sejak Maret, membuat para pebisnis bunga melewatkan momentum terlaris penjualan bunga mereka. Padahal biasanya setiap tahun peringatan Hari Ibu, upacara kelulusan dan kunjungan keluarga selama Ramadhan, hingga pernikahan adalah saat dimana permintaan bunga akan melonjak naik. Namun tidak dengan kondisi saat ini.

Abu Halima memiliki lahan pertanian yang terletak di wilayah Beit Lahiya, dirinya adalah satu-satunya petani yang menanam bunga untuk tujuan komersial di Gaza Utara.

 

Berita Palestina: Gaza Darurat Corona, Israel Harus Tanggung Jawab!

 

Blokade Menghancurkan Ekonomi Gaza

Sebelum blokade yang dilakukan oleh Israel, Gaza dapat mengekspor sekitar 50 sampai 60 juta bunga ke Belanda. Namun semuanya berubah semenjak Israel memperketat blokade Gaza pada tahun 2007, Israel membatasi secara sepihak ekspor bunga dari Gaza.

“Saya berharap Israel mengizinkan kami mengekspor bunga lagi, karena permintaan di Gaza begitu kecil” kata Abdullah Abu Halima

Adham al-Bassiouni, seorang perwakilan dari kementerian pertanian Gaza, mencatat bahwa hasil pertanian bunga merupakan salah satu sektor penghasil uang di Jalur Gaza. Situasi itu sangat berbeda dengan realitas Gaza saat ini, di mana pembatasan diberlakukan setelah kasus pertama virus Corona dikonfirmasi pada bulan Maret. “Banyak orang kehilangan pekerjaan dan mereka hampir tidak bisa memberi makan keluarga mereka,” kata al-Bassiouni.

 

Berita Palestina: Pangandangan Analisis Terkait Isu di Palestina

 

Lesunya Permintaan, Bunga Terpaksa Dijadikan Pakan

PU-1- Pandemi Dan Blokade Kompak Buat Layu Bisnis Bunga di Gaza-www.palestineupdate.com(3) - www.palestineupdate.com
(Akibat merosotnya permintaan, petani bunga di Gaza-Palestina terpaksa menjadikan bunga hias sebagai pakan hewan/The Electronic Intifadha)

 

Kendati bunga yang ditanam merupakan buang hias yang bernilai jual tinggi. Namun, tersebab permintaan terhadap rucnus semakin menurun dengan tajam, akhirnya Abu Arada menggunakan tanaman rucnusnya sebagai pakan kambing dan domba. Dirinya juga terpaksa merumahkan pekerja yang biasa mengurusi lahan pertaniannya.

Keluarga Abu Arada sendiri telah menanam bunga sejak tahun 1992 hingga saat ini, meskipun dirinya pernah mengalami tiga serangan besar Israel di Gaza sejak Desember 2008.

“Kami melewati masa-masa buruk selama perang, tetapi ini lebih buruk daripada perang Israel,” katanya.

Kisah tak jauh berbeda juga dialami oleh Lubbad Hijazi (20 tahun) dan keluarganya yang juga menanam bunga di Rafah, sebuah kota dekat perbatasan Gaza dengan Mesir. Luas lahan pertanian Hijazi seluas 2,5 hektar adalah sumber pendapatan utama bagi sekitar 40 kerabatnya.

Keluarga Hijazi menanam bunga menggunakan bibit yang diimpor dari Israel. Namun mereka telah kehilangan begitu banyak uang pada musim semi ini, sehingga mereka tidak mampu membeli bibit baru untuk musim tanam yang akan datang.

“Tidak ada yang berpikir untuk membeli bunga sekarang. Tapi kami tidak punya pekerjaan lain. Jadi kami terus berharap virusnya akan hilang.” Ujar Hijazi. (itari/palestineupdate)

(Sumber: The Electronic Intifadha)

About admin

Check Also

berita palestina - warga gaza susah dapatkan kartu identitas karena israel - www.palestineupdate.com (1) - www.palestineupdate.com

Tanpa Kartu Identitas, Warga Gaza Bak Dipenjara

Israel mempersulit kehidupan warga Palestina bahkan di Gaza, salah satunya terkait akses mobilitas warga yang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *