WeCreativez WhatsApp Support
Tim kami ada di sini untuk menjawab pertanyaan Anda.
Ajukan Pertanyaan Anda Kepada Kami
Home / Wacana / Pemblokadean Perburuk Angka Pengangguran di Gaza

Pemblokadean Perburuk Angka Pengangguran di Gaza

Akibat pemblokadean Israel, seorang pengrajin kayu harus dipecat karena atasannya sudah tidak bisa membayar upahnya.

Palestineupdate.com – Ia hanyalah satu dari sekian banyak pengrajin kayu di wilayah pemblokadean bernama Jalur Gaza. Kalau dirinya boleh bercerita, situasi wilayah tidaklah membaik – terutama pengangguran yang hanya berubah dari status “buruk” menjadi “lebih buruk”. Maka izinkanlah ia bercerita, tidak panjang tapi cukup untuk membuatmu merenung. Selamat mendengar kisahnya di kabar Palestina hari ini!

Sami Abu Jayab, tengah berjuang namun kesulitan dalam memberikan nafkah untuk keluarga.  Selama enam tahun, ia telah bekerja sebagai pengrajin kayu di barak pengungsian Maghazi – pusat Gaza. Akan tetapi, Sami kehilangan pekerjaannya beberapa bulan lalu.

Berita Palestina: Angka Pengangguran di Jalur Gaza Meningkat Tajam

“Bos saya meminta maaf dan memberi tahu bahwa dirinya tidak bisa menggaji saya lagi,” ucap pria 31 tahun dengan tiga anak tersebut.

“Salah satu dari anak-anak saya memiliki penyakit epilepsi,” ungkapnya. “Obat untuk itu sangatlah mahal dan kami harus membawanya ke dokter secara rutin. Sekarang saya telah kehilangan pekerjaan, saya tidak tahu harus berbuat apa.”

Saat perusahaan bosnya dulu sedang dalam kondisi yang lebih baik, Sami biasa memperoleh USD 15 per hari atau lebih. Walaupun pemasukannya tidak banyak, itu tetaplah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

berita palestina - pengrajin kayu di gaza (2) - www.palestineupdate.com - Palestine Update
Keterangan Foto: Para pengrajin  kayu di Gaza. (Sumber. Palinfo)

Abdullah Tilbani, pemilik bengkel yang mempekerjakan Sami, mengungkapkan; “Saya terpaksa memberhentikan Sami walaupun dirinya cerdas dan seorang pengrajin kayu yang berpengalaman.”

Industri furnitur mengalami fase sulit dikarenakan adanya pemblokadean yang dilakukan Israel terhadap Gaza, sejak tahun 2007.

“Bisnis berjalan baik di masa lalu,” ungkap Abdullah. “Ayah saya beserta kolega-koleganya dulu melakukan ekspor ke Eropa. Mereka mendapatkan penghasilan yang baik. Tapi sekarang, situasinya tengah beralih dari ‘buruk’ menjadi ‘lebih buruk’. Sebagian besar pekerjaan yang saya lakukan adalah memperbaiki, bukan membuat furnitur baru.”

berita palestina - truk barang ke gaza (3) - www.palestineupdate.com - Palestine Update
Keterangan Foto: Truk barang ke Gaza. (Sumber. Wikipedia)

Pembatasan

Permasalahan yang dihadapi oleh bisnisnya diperburuk oleh sejumlah pembatasan yang dilakukan Israel terhadap impor. Dengan dalih keamanan, Israel mencegah banyak barang masuk ke Gaza.  Daftar barang-barang tersebut begitu panjang – termasuk lembaran logam, peralatan pengeboran, dan papan kayu yang lebih tebal dari 2 sentimeter.

Dalam beberapa bulan terakhir, beberapa media Israel melaporkan bahwa daftar tersebut telah dipersingkat. Meski begitu, kelompok hak asasi manusia Gisha dalam penyelidikannya menemukan bahwa tidak ada item yang telah dihapus dari daftar.

Berita Palestina: Blokade Sebabkan Gaza Alami Kerugian hingga 70 Juta Dolar

Bagi Abdullah, menjadi sangat sulit untuk mengamankan bahan baku dasar. “Ketika saya harus membuat furnitur untuk kamar tidur, perlu waktu sedikitnya dua pekan untuk mendapatkan semua bahan yang dibutuhkan. Ini lebih lama dibandingkan waktu untuk membuat furnitur itu sendiri.”

Lagi-lagi pemblokadean menjadi sebab-musabab runtuhnya sektor industri furnitur di Jalur Gaza. Hal yang kemudian berimbas pada sektor-sektor lain misalnya sektor keuangan, seperti yang dirasakan oleh Sami Abu Jayab dan Abdullah Tilbani. (kimikim/palestineupdate)

 

Sumber. Electronic Intifada

About admin

Check Also

Selandia Baru Hapus Peta Israel - Palestine Update

Laman Resmi Pemerintah Selandia Baru Hapuskan Israel dari Peta

Palestineupdate.com – Berbanding terbalik dengan Google yang menghilangkan Palestina dari peta dan menggantinya dengan nama Israel, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *