WeCreativez WhatsApp Support
Tim kami ada di sini untuk menjawab pertanyaan Anda.
Ajukan Pertanyaan Anda Kepada Kami
Home / Berita / Bagaimana Krisis Pengaruhi Kehidupan Keluarga di Gaza?

Bagaimana Krisis Pengaruhi Kehidupan Keluarga di Gaza?

Krisis yang terjadi di Gaza telah mempengaruhi kehidupan banyak keluarga di Gaza, termasuk bagi keluarga Abu Nemer.

Palestineupdate.com – Jalur Gaza diprediksi tidak layak huni pada 2020 menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Krisis yang terjadi di berbagai sektor kehidupan menjadi salah satu penyebab utama buruknya kondisi wilayah. Satu keluarga di Gaza lantas bercerita mengenai  kehidupan mereka, menjadi salah satu bukti kongkret akan adanya krisis di sana. Kalau begitu, mari simak kabar Palestina hari ini.

Aisha Abu Nemer, wanita berusia 23 tahun ini tinggal bersama suami dan tiga anaknya – usia delapan, enam, dan delapan bulan – di Khan Yunis di Gaza bagian selatan. Ia dan keluarga tinggal di dalam rumah kumuh, dengan lokasi yang terpencil, lingkungan yang buruk, dan memiliki luas 50 meter persegi serta beratapkan seng.

Berita Palestina: Ketika Rumah Sakit Hanya Tersedia Satu di Kota Rafah – Gaza

Mereka tinggal di rumah yang hanya memiliki satu ruangan, mencakup ruang tamu juga disertai dengan dapur dan kamar mandi. Di kamar tidur tunggal tersebut, terdapat kasur di lantai dan lemari putih – satu-satunya perabotan yang ada di rumah.

Tidak ada satu pun dari itu semua, yang melindungi Aisha beserta keluarga dari cuaca panas, dingin, atau lembab.

“Mimpi buruk terburuk adalah ketika mulai hujan,” ungkapnya. “Kami harus terbangun di tengah malam untuk menampung air hujan yang membanjiri rumah dengan ember, dan memindahkan kasur serta selimut dari lantai.”

Berita Palestina: Pemblokadean Perburuk Angka Pengangguran di Gaza

“Dapat Anda bayangkan bahwa kami harus tetap terjaga sampai hujan reda dan selimut kering.”

Kondisi tidak selalu seperti itu. Ketika ia dan sang suami, Jihad Abu Nemer, menikah delapan tahun lalu, sektor keuangan Gaza masih dalam kondisi yang lebih baik.

“Suami saya mengumpulkan beton di atas gerobak dan menjualnya dengan harga 5-8 syekel (USD 1-2) per hari. Sekitar 100-150 syekel (USD 29-43) dalam sebulan, yang tentu saja tidak dapat menutupi kebutuhan kami. Itulah mengapa kamu lebih bergantung pada bantuan.”

Berita Palestina: Benarkah Qatar Hentikan Pengiriman Bantuan ke Gaza di 2020?

“Delapan tahun lalu, ia dulu mendapat lebih banyak penghasilan,” tambahnya.

Kebutuhan utama sulit diperoleh. “Kami tidak mendapatkan air ledeng,” ungkap Nemer. “Perlu banyak biaya untuk mendapatkan pasokan air kota. Jadi, tetangga kami yang selalu mengisi air di tong kami untuk keperluan mandi, mencuci piring, mencuci pakaian. Sementara untuk air minum, kami mengisi tong lain dari ledeng air yang dipasang oleh komunitas kemanusiaan di lingkungan kami.”

Terlepas dari situasi ekonomi yang buruk, prioritas utama Abu Nemer adalah membuat putrinya yang berusia enam tahun mendapatkan pendidikan yang layak.

Berita Palestina: Tak Punya Banyak Pilihan, Warga Gaza Ambil Pekerjaan Berisiko

“Putri saya duduk di bangku kelas satu. Dia hanya memiliki satu seragam untuk sekolah. Saat dia kembali dari sekolah, saya mencuci dan menjemurnya sehingga dia dapat menggunakannya di esok hari.”

“Bahkan jika kami tidak memiliki cukup uang untuk pendidikannya, saya akan menjual darah saya untuk mengirimnya sekolah.” (kimikim/palestineupdate)

 

Sumber. Middle East Eye

About admin

Check Also

berita palestina - sirkus terkenal di palestina - www.palestineupdate.com (1) - www.palestineupdate.com

Nilai-Nilai Sirkus Kontemporer bagi Warga Palestina

Sirkus terutama sirkus kontemporer yang kemudian berkembang di Palestina, menunjukkan  kurang lebih gambaran kehidupan warga …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *