WeCreativez WhatsApp Support
Tim kami ada di sini untuk menjawab pertanyaan Anda.
Ajukan Pertanyaan Anda Kepada Kami
Home / Berita / Israel Hancurkan Perpustakaan dan Tangkap Putra Peneliti Palestina

Israel Hancurkan Perpustakaan dan Tangkap Putra Peneliti Palestina

Mahmoud Talab Nammourah/Quds News Network

Israel menghancurkan rumah, perpustakaan seorang peneliti Palestina, menangkap kedua putranya lantas mengancam agar tidak ada laporan gugatan yang dilayangkan

Palestineupdate.comKesewenang-wenangan yang dilakukan Israel tidak hanya tentang perusakan fasilitas umum dan rumah-rumah milik penduduk sipil Palestina, tetapi juga menghalangi penduduk Palestina yang menjadi korban untuk mengajukan gugatan. Bagaimana tindakan Israel ini dapat terjadi? Simak informasi selengkapnya dalam portal berita Palestina terkini, Palestine Update.

 

Israel Hancurkan Rumah Peneliti Palestina Dan Menghalanginya Mengajukan Gugatan

Potret Bangunan yang dihancurkan oleh Israel/Nederlands Palestina Komitee

 

“Rumah bukan hanya batu tetapi juga kenangan” ini adalah bagaimana Mahmoud Talab Nammourah menggambarkan skala kehilangan yang dideritanya setelah Israel menghancurkan rumahnya di Dura, Hebron Selatan selama intifadha kedua.

Di bawah rereuntuhan rumahnya, dirinya mengaku kehilangan harta yang paling berharga yakni perpustakaannya yang berisi lebih dari 5000 buku, termasuk di dalamnya surat kabar dan arsip dari Mesir dan Turki. Selepas mengancurkan rumahnya, tentara Israel yang mengepung rumahnya mencegah Nammourah untuk mengajukan gugatan atas kekejaman yang telah diterimanya dari tentara Israel.

“Saya mengatakan kepada petugas dan pasukan Israel  yang menghancurkan rumah saya, bahwa saya akan mengajukan gugatan kepada Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court). Tetapi dia mengarahkan senjatanya kepada saya dan berkata: hanya yang yang memiliki wewenang di sini” kenang Nammourah.

 

Penangkapan Putra Nammourah

Salah satu gambaran kondisi di penjara Maasiyahu Israel/Haaretz

 

Penderitaan yang dirasakan Nammourah tidak hanya berhenti pada penghancuran rumahnya, akan tetapi Israel juga menangkap putranya, Anees dan Akram. Israel menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada kedua putranya.

Baik Anees maupun Akram baru mendapatkan kebebasan mereka kembali setelah pertukaran tahanan pada tahun 2011. Nammourah menceritakan kisahnya bertemu dengan anak-anaknya diperbatasan Gaza. Huda Nammourah sang istri yang tengah sakit dan hanya bisa duduk di kursi roda, berlari sejauh 20 meter memeluk putranya. Seminggu setelah pertemuan itu, Huda Nammourah meninggal dunia dan di makamkan di Dura.

Selepas ditinggal oleh sang istri, Nammourah harus kehilangan juga anaknya yang lain. Hazem (30 tahun) meninggal setelah menyumbangkan ginjalnya kepada Anees yang mengalami kerusakan akibat penanganan medis yang buruk selama mendekam di penjara Israel. Kendati telah banyak mengalami pengalaman pahit selama berada di Gaza-Palestina, Nammourah tetap melanjutkan penelitiannya dan berusaha mengungkapkan kejahatan dari penjajahan Israel. Hingga kini Nammourah masih bekerja sebagai kepala sekolah di kota kelahirannya, dan juga bekerja sebagai perwakilan Palestina di UNESCO. Di tengah keterbatasan yang dialaminya, tidak menyurutkan semangat untuk tetap berkarya, hal ini terbukti dengan beberapa karyanya yang telah diterbitkan seperti “Islam, Barat, dan Palestina”, “Cerita Rakyat di Pedesaan Palestina” dan “Sejarah Maligned Palestina” (itari/palestineupdate)

About admin

Check Also

Suka Duka Idul Adha 1441 Hijriah di Negeri Anbia

Pribumi Palestina tetap berbahagia merayakan Idul Adha, walaupun penjajahan dan pandemi menjadi tantangan luar biasa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *