WeCreativez WhatsApp Support
Tim kami ada di sini untuk menjawab pertanyaan Anda.
Ajukan Pertanyaan Anda Kepada Kami
Home / Artikel / Memori Intifada Pertama yang Begitu Membekas

Memori Intifada Pertama yang Begitu Membekas

Intifada Pertama yang terjadi puluhan tahun lalu masih membekas kuat di ingatan orang-orang, termasuk bagi mereka yang menyaksikan sendiri peristiwa hari itu.

Palestineupdate.com – Meski Intifada terjadi lebih dari tiga puluh tahun lalu, tidaklah akan pudar dari ingatan dunia terutama pribumi Palestina. Yang luar biasa, terdapat sejumlah orang di kala itu yang masih hidup hingga hari ini. Siapa saja mereka dan bagaimana kisah perjuangan yang dialami? Simak ulasan kabar Palestina hari ini, ya!

Yang PERTAMA adalah Wael Joudeh yang berusia 48 Tahun, asal dari Desa Iraq al-Tayeh di Nablus, Tepi Barat. Pada saat itu, tepatnya 26 Februari 1988, Wael (saat itu 17) bersama Osamah (sepupu) hendak kembali ke desa tempat tinggalnya setelah menggembala domba.

berita palestina - orang yang menyaksikan intifada pertama (2) - www.palestineupdate.com - Palestine Update
Keterangan Foto: Wael Joudeh, salah satu orang yang menyaksikan Intifada Pertama. (Sumber. Kompas)

 

Tanpa disangka, Wael dan Osamah ternyata diikuti oleh tentara Israel, yang kemudian menangkap keduanya. Tidak puas sampai di situ, dua sudara itu dibanting ke tanah, dipukuli oleh batu dengan maksud untuk mematahkan tulang keduanya.

Beruntung, aksi itu terekam video dan menjadi bukti pertama dari insiden yang kemudian dikenal dengan “Kebijakan Patahkan Tulang” tersebut.

Wael bercerita bahwa salah seorang tentara Israel melepas topi militer yang digunakan, lalu menghantamkannya ke kepala Wael, yang menyebabkannya terhuyung-huyung.

“Setelah itu, tentara tersebut meneriakkan kalimat; ‘Saya terlahir untuk membunuh orang Palestina!” ungkap Wael.

Tidak hanya itu, “Mereka juga berusaha mempermalukan dan menjatuhkan semangat kami.”

Berita Palestina: Apa yang Dimaksud dengan Intifada?

Setelah Wael dan Osamah dianiaya, keduanya dibawa ke pusat hukuman Tubas Al-Faraa di Tepi Barat.

Pada malam hari, Wael didatangi oleh seorang perwira Israel, menanyai dirinya tentang peristiwa penganiayaan. Karena terekam dalam sebuah video dan memancing amarah internasional, keduanya dibebaskan setelah media internasional menekan militer Israel.

Itu bukanlah satu-satunya kejadian. Selama Intifada Pertama, tercatat lima kali dirinya ditahan di sejumlah penjara Israel.

Hari ini, dirinya berusia 48 tahun, telah menikah serta mempunyai kurang lebih empat orang anak.

“Saya selalu menceritakan pengalaman saya kepada anak-anak. Mereka kemudian menyampaikannya kepada teman-teman mereka,” ungkap Wael.

berita palestina - orang yang menyaksikan intifada pertama (3) - www.palestineupdate.com - Palestine Update
Keterangan Foto: Khadija Abu Shreifa, salah satu orang yang menyaksikan Intifada Pertama. (Sumber. Kompas)

Cerita KEDUA datang dari Khadija Abu Shreifa, seorang ibu sekaligus pengungsi yang kini berusia 67 tahun. Ia berasal dari barak pengungsian Jalazone (Ramallah di zaman dulu), Tepi Barat.

Khadija beserta keluarganya terpaksa keluar dari rumah mereka di desa Safriyya, di tahun 1948. Pada mulanya, mereka menetap di barak pengungsian Aqabat Jabar di Jericho (masih di Tepi Barat). Mereka kemudian pindah menuju Wahdat di Yordania.

Lalu, barak pengungsian Jalazone menjadi tujuan terakhir setelah perang di bulan September 1970.  Pada masa Intifada Pertama, Khadija memang tidak mengingat tanggal pastinya. Akan tetapi, ia mengingat secara jelas akan momen menyedihkan yang menimpa dirinya di kala itu.

Ketika itu, para pria dan perempuan di barak pengungsian Jalazone melancarkan protes kepada militer Israel, yang kemudian dibalas dengan serangan.

“Saya masih ingat, seorang tentara Israel mengucapkan kata-kata yang melecehkan perempuan,” ungkap Khadija.

Ia yang marah mendengarnya, kemudian berusaha menegur. Akan tetapi, tentara tersebut membalasnya dengan sumpah-serapah dan mulai menyerangnya. Khadija tidak tinggal diam, lantas membalas dengan memukul tentara tersebut.

Hal tersebut ternyata telah memicu gerombolan militer Israel, dan mulai menyerbunya. Ia melanjutkan bahwa para tentara kemudian memukuli, menjambak rambut, dan berusaha membunuhnya dengan cara menembak dari jarak dekat. Beruntung, dua buah peluru tersebut menembus bahu dan kakinya, bukan organ vital.

Berita Palestina: 17 Tahun Intifada II-Intifada Al-Aqsha

Para penghuni barak pengungsi Jalazone lantas berusaha menyelamatkan Khadija dari serangan membabi buta militer Israel.

“Salah satu perempuan melepas jilbabnya, dan mulai menutup luka saya. Orang-orang di barak kemudian membawa saya ke rumah sakit di Ramallah,” kenangnya.

Perempuan-perempuan lain yang melihat kejadian tersebut lantas marah dan semakin aktif dalam memprotes tentara Israel. Akibatnya, sebanyak 40 perempuan harus mengalami luka tembakan.

Sejak kejadian naas tersebut, Khadija mengambil peran besar dalam mencegah kekerasan yang dilakukan tentara penjajahan terhadap pribumi Palestina.

Bahkan, setiap kali tentara berupaya menangkap dan menyiksa seorang anak, Khadija akan berlari ke arahnya dan mengklaim bahwa anak tersebut adalah anaknya.

Menurut Presiden Komite Perempuan Palestina Khitam Saafin, perempuan memainkan peranan penting selama masa Intifada Pertama. Peranan tersebut tidak hanya terlihat dari tindakan yang dilakukan Khadija untuk melindungi kaum muda. Perempuan juga menyuplai kebutuhan batu, yang digunakan demonstran untuk melempar pasukan Israel.

“Mereka juga menyediakan kebutuhan sehari-hari di Palestina, ketika aksi boikot produk Israel meluas,” jelas Khitam.

berita palestina - orang yang menyaksikan intifada pertama (4) - www.palestineupdate.com - Palestine Update
Keterangan Foto: Abdullah Abu Shalbak, salah satu orang yang menyaksikan Intifada Pertama. (Sumber. Kompas)

Selain itu, cerita KE TIGA datang dari Abdullah Abu Shalbak, 51 Tahun, asal Al-Bireh, Ramallah, Tepi Barat. Baginya, seni coretan di dinding yang disebut dengan Grafiti, juga menjadi salah satu alat protes untuk melawan Israel saat Intifada Pertama.

Cara itu menjadi satu-satunya media komunikasi yang bisa dilakukan warga Palestina di dinding barak pengungsian, atau di kawasan mereka di sepanjang Jalur Gaza dan Tepi Barat.

Ketika itu, Abdullah muda menjadi anggota “Pasukan Grafiti” yang bertugas di dinding Al-Bireh. Bagi remaja yang kala itu baru berusia 19 tahun, tugas yang diberikan jelas menantang sekaligus mengkhawatikan.

Abdullah mengungkapkan bahwa pasukan militer sudah mengawasi setiap pergerakannya, “Pasukan Israel berkeliaran di sepanjang gang dan menempatkan mata-mata di antara kami.”

Berita Palestina: Hasil Konferensi Internasional Hari Kedua di Iran: Intifada di Palestina Harus Terus Dilakukan

Selama tiga tahun terakhir Intifada Pertama, Abdullah terus menggambar slogan di dinding. Sementara itu, Israel juga sering menggunakan grafiti untuk memberikan kode kepada orang-orang yang bersekutu dengannya.

“Grafiti Israel biasanya ditandai dengan lingkaran di mana di dalamnya terdapat segitiga,” ungkap Abdullah. Ia melanjutkan, misi mereka adalah melacak grafiti milik Israel dan menghapusnya sebelum mata-mata Israel dapat melihat isi pesannya.

Itulah kisah ke tiga orang yang hidup di masa intifada pertama, dan masih hidup hingga saat ini. Peristiwa itu begitu membekas di ingatan ke tiganya, bagaimana penjajah memperlakukan mereka, dan perjuangan yang telah ke tiganya lakukan. (kimikim/palestineupdate)

 

Sumber. Kompas

About admin

Check Also

Apakah Semua Orang Palestina Beragama Islam?

Tak hanya Muslim, Kristen dan Yahudi juga telah lama mendiami Palestina. palestineupdate.com – Penduduk Palestina …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *